Alhamdulillah, Lima Wisatawan Indonesia Telah Menjadi Pelanggan Pertama Kami

Anda ingin travelling ke New Zealand? Kami siap membantu perjalanan wisata Anda dengan tarif mahasiswa. Jangan ragu untuk menghubungi kami yaa …

Menegangkan, inilah pengalaman pertama kami menjadi travel guide untuk kelima turis yang telah datang ke New Zealand beberapa hari yang lalu. Perjalanan wisata mereka selama 10 hari lebih (dimulai dari tanggal 31 Desember 2009 s/d 13 Januari 2010) menjadi ujian pertama kami dalam menangani usaha travel guide ini. Kelimanya merupakan satu keluarga, kedua orang tua dan ketiga anak-anak mereka yang sangat antusias dalam perjalanan wisata mereka membuat kami menjadi semakin bersemangat.

Kurang lebih sebulan sebelum kedatangan mereka, semua akomodasi, fasilitas transportasi dan tempat-tempat yang akan mereka kunjungi telah kami booking dan kami siapkan. Alhamdulillah, semuanya berjalan dengan lancar.

Perjalanan wisata mereka dimulai ketika kami menjemput mereka di Bandara, lalu menginap di Wellywood Backpacker yang berada di depan flat kami, sehari jalan-jalan di Botanic Garden, naik cable car, Museum Te Papa dan menikmati suasana jalan kaki di kota Wellington. Untuk obyek wisata di Wellington, saya sendiri yang menjadi guide, ditemani oleh saudara Deddy Pasareken yang menjadi guide cadangan sekaligus driver.

Hari Sabtu, 2 Januari 2010 perjalan ke South Island dimulai dengan menyebrang menggunakan kapal ferry Blue Bridge. Perjalanan wisata ini mengunjungi beberapa kota di Picton, Kaikoura, Christchurch, Mount Cook, Queenstown, Wanaka, Fox Glacier, Grey Mouth, Nelson lalu berakhir di Picton kembali untuk menyebrang ke North Island, yaitu kota Wellington base camp pertama kami memulai perjalanan. Untuk perjalanan keliling South Island ini saudara Deddy Pasareken menjadi full guide selama perjalan, saya sendiri mengorganisir akomodasi, penginapan di Wellington dan pemesanan beberapa penginapan untuk mereka. Perjalanan ke South Island berakhir pada hari Minggu, 10 Januari 2010.

Selama dua hari di kota Wellington, maka perjalanan berlanjut untuk mengunjungi sebagian dari Museum Tepapa yang belum selesai kami kelilingi sebelumnya, lalu ke Miramar untuk membeli souvenir khas New Zealand, ke Karori Sanctuary untuk melihat kehidupan liar khas New Zealand dan pemandangan alam yang indah. Tidak lupa kami juga berkunjung ke Wellington Zoo dan mencoba naik bis ala Wellington. Jalan kaki mengelilingi kota kecil ini juga menyisakan pengalaman yang menarik bagi mereka.

Masih ragu untuk berwisata ke New Zealand, silakan hubungi kami ya.

Posting Terkait

Advertisements

Murahnya Potong Rambut di Luar Negeri

Gondrong…, sesuatu yang dulu saya benci tapi sekarang harus saya sukai. Rambut yang selama di Indonesia setiap 3 minggu atau sebulan sekali dipotong sekarang harus rela memotongnya 4 atau 6 bulan sekali. Rambut saya yang memang aslinya njigrak seperti rambut landak semakin tambah njigrak karena tidak cukuran selama beberapa bulan.

Urusan cukur mencukur dan potong memotong rambut, Indonesia sepertinya adalah salah satu negara termurah. Cukup Rp.6.000 atau Rp.7.000 rambut kita sudah bisa dilibas oleh tukang cukur profesional plus pijat di kepala 5 menitan.

Saya sempat baca blognya Pak Dono Widiatmoko yang saat ini bermukim di The United Kingdom, beliau bilang kalau sekali pangkas rambut di sana tarifnya 11 poundsterling untuk umum dan 8,5 poundsterling untuk pelajar. Kalau dirupiahkan ya sekitar Rp.150.000-an, cukup untuk 20 kali potong rambut di Indonesia. Kalau di New Zealand, tarif rata-rata termurah adalah $20 untuk umum dan $15 untuk student (harus menunjukkan student card tentunya). Jika dirupiahkan ya kurang lebih Rp.130.000-an. Kalau di Barber Shop yang lebih bagus harganya bisa 2 kali lipat lebih. Tak beda jauh dengan di UK.

Tarif potong rambut untuk wanita justru lebih mahal lagi. Rata-rata adalah dua kali dari harga di Barber Shop untuk pria. Akhirnya dengan tidak yakin, istri saya pun memasrahkan rambutnya untuk saya potong. Hasilnya? Cukup memuaskan untuk tukang pangkas rambut wanita pemula. Gratis tis tis…, hayo siapa yang mau?

Selama di New Zealand saya baru pergi ke tukang cukur sekali, itu pun dengan hasil yang menurut saya kurang memuaskan. Rambut saya yang njigrak jadi tambah njigrak. Rambut yang biasa dicukur seperti tentara akhirnya jadi kayak model rambutnya si Kipli di sinetron Kiamat Sudah Dekat. Istri saya pun bilang, “Hasil cukurannya bagus mas, bagus banget.” Tapi sambil tertawa terpingkal-pingkal.

Nah, jika mau murah. Coba cari teman-teman yang bisa mencukur rambut kita. Sediakan saja alat-alatnya dan teman kita yang mencukur. Atau cukur botak alias gundul, cukup cukur sendiri dengan gunting elektrik yang banyak tersedia di toko-toko sekitar flat Anda.

Berkunjung ke Botanic Garden Kedua Kalinya, Saat belum hamil dan sedang hamil, saat summer dan winter

Berkunjung ke Botanic Garden Kedua Kalinya, Saat belum hamil dan sedang hamil, saat summer dan winter

Shared via AddThis

Wellington Harbour, ngantri buat beli ikan

Awalnya saya tidak terlalu suka ikan. Kesukaan saya pada ikan berawal ketika perusahaan tempat saya bekerja menugaskan saya untuk menghandle project Telkomsel dan Indosat di Area Sulawesi Tengah, yaitu di daerah Palu, Toaya, Palolo, Toboli, Kasimbar, Tada, Tinombo, Palasa, Parigi Moutong, Poso Sausu, Poso dan Tentena.

Hampir setiap hari Ibu Kos saya di Tada menyajikan menu ikan. Inilah adat orang Sulawesi Tengah. Dianggap tidak makan atau nggak ada lauk jika ikan tidak tersedia. Bagi saya sayur, tempe goreng, sambel dan telur ceplok sudah cukup. Tapi Ibu kos saya melarang saya makan hanya gara-gara nggak ada ikan.

Kesukaan pada ikan ini akhirnya berlanjut saat saya menikah, karena ternyata istri saya lebih suka ikan. Saking nyidamnya untuk makan ikan saya dan istri suka beli ikan segar pada hari Minggu di Sunday Market Wellington. Waduuh…kok jauh amat dari Palu kok lompat ke Wellington.

Saat pertama kali beli, istriku ngantri lama banget. Hampir ada 50 orang ngantri beli ikan di Wellington Harbour. Belakangan kami baru tahu kalau yang ngantri ternyata yang minta ikannya di fillet (diiris dan dibuang tulangnya), padahal kami mau beli ikan segarnya. Eeeh…nggak taunya yang mau ikan segar bisa langsung nylonong ke depan untuk beli tanpa beli ngantri. Padahal sudah ngantri setengah jam lagi. Semprul….

Jadi jika Anda mahasiswa mau beli ikan segar, datang saja ke Wellington Harbour pada saat Sunday Market. Harganya berkisar NZ$ 6.00 s/d NZ$ 14.00 perkilo tergantung jenis ikannya. Kalau mau dapat bonus satu ikan, datanglah pada saat siang menjelang Sunday Market tutup. Tapi saya nggak tanggung jawab yah kalau ikannya keburu habis. Hehe…

Jalan Kaliurang Yogyakarta

Jika Anda mau ke Yogyakarta tak ada salah download peta Yogya di sini.

Ada beberapa kenangan yang membuat saya begitu teringat dengan jalan Kali Urang Yogyakarta ini. Pertama saat saya masih single, belum menikah dan bekerja sebagai Site Engineer di sebuah perusahaan kontraktor ternama di Indonesia. Saat itu saya bersama teman-teman tinggal di daerah kampus UGM Yogyakarta tak jauh dari hotel Vidi 1, orang yang pernah ada Yogyakarta kebanyakan tahu jalan Kaliurang.

Saya suka berada di sana karena harga makanan yang murah meriah, laundry yang perkilo cuma Rp. 3.000 dan temen-temen yang asyik. Saat saya sakit gejala typus pun dekat dengan rumah sakit. Untuk yang satu ini saya ucapkan terima kasih kepada Agung Saputro yang telah mengantarkan saya yang lagi sakit ke rumah sakit. Calon istri saya saat itu sampai mau menyusul ke Yogyakarta karena sakit ini.

Lalu yang kedua saat sudah menikah, saya bersama istri dengan pekerjaan yang sama seperti sebelumnya. Kami dalam kondisi uang sangat pas-pasan mencari hotel yang bisa dipakai untuk tempat menginap barang semalam. Pengantin baru yang ingin bulan madu dengan uang pas-pasan. Akhirnya kami dapat hotel dengan harga Rp. 90.000/malam, di Jalan Kaliurang juga. Tapi amit-amit kotor banget, di sprei banyak sekali bercak-bercak yang saya tahu itu bercak sperma.

Saya kasihan sekali pada istriku karena gatal-gatal setelah tidur di sana.

Sunday Market (Farmers Market) Wellington cuman cari Cabe

Hehe…, dasar mahasiswa. Carinya yang murah mulu. Ya itulah kami, berdua sama istri suka cari barang dan belanjaan yang murah dengan kualitas yahuud.

Itu pula yang kami lakukan di Wellington, New Zealand. Hari Minggu sekitar jam 11.00 saya berdua sama istri suka membeli stock belanjaan selama seminggu di Sunday Market. Ini tempat favorit kami dalam berbelanja. Selain harganya murah, fresh dan yang jelas jalan-jalan di pagi hari.

Berjalan dari flat di Drummond Street menuju Sunday Market di kawasan Wellington Harbour membutuhkan waktu sekitar 25 menitan. Kalau naik bis sih bisa juga bayar NZ$ 1,50 tapi kan sayang. Di sana kami biasanya membeli ikan segar, sayuran, buah-buahan, dan bumbu.

Hal yang paling menggiurkan di sini sebenarnya adalah CABE. Tau cabe kan? Itu loh, yang rasanya pedas. Kami berdua orang Indonesia yang keranjingan makan pedas, apalagi istriku keturunan Padang totok yang tiap hari selama di Indonesia makan pake sambal. Ngubek-ngubek Kota Wellington Anda akan kesulitan menemukan cabe yang cocok dengan kantong kami.

Kadang sekilo cabe yang sudah difrozeen harganya mencapai NZ$ 30 (Rp. 180.000), hehe nggak dehhh.. Nah di Sunday Market kami bisa beli cabe perpack kecil sekitar NZ$ 2.00 yang cukup untuk bumbu 3 hari. Hehe…, kalau sudah begini, dapat cabe baru bilang Indonesia banget.

Maklum saja orang di sini kan nggak suka pedas. Saus buatan Indonesia yang menurut kami terasa manis saat kami kasih ke mereka malah kepedasan. Itulah bedanya lidah made in Indonesia dan lidah made in New Zealand. Bedanya pada saat makan cabe….Hehe…

Semarang, Kota Tua di Indonesia

Download Peta Kota Semarang di sini.

Aku cinta Semarang. Inilah kata-kata pertama yang muncul dalam benak saya. Selama lima tahun saya menghabiskan waktu di kota ini untuk menyelesaikan kuliah jurusan Teknik Sipil saya. Sampai akhirnya saya nyangsang (nyangkut) di hati seorang mahasiswi Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, kota Depok nun jauh di barat sana. Istri yang selalu menemaniku di kala susah dan senang, she is my lovely wife.

Saya masih ingat betul dengan dosen-dosen saya seperti Pak Saratri Wilonoyudo, Pak Ispen, Pak Lashari, Bu Sri Handayani, Pak Nur Qudus dan dosen-dosen lainnya. Pokoknya saya ucapkan terima kasih atas bantuan mereka semua.

Saya suka kekhasan kota Semarang. Ada Lumpia di Jl. Pandanaran, sego (nasi) kucing di dekat kampus, Masjid Agung, Gereja Blenduk, Gunung Pati (hehe… ini sih kampus saya) dan kawasan Kota Tua nun indah yang sekarang sering kerendam rob. Tidak tahu kapan pemerintah daerah bisa memanfaatkan kawasan itu dengan baik dan menjadikannya obyek wisata yang mengagumkan.

Simpang Lima, ya inilah tempat favorit saya dulu. Sembari nongkrong di Masjid Agung Simpang lima saya suka menikmati pemandangan saat malam hari. Mau jajan? Hehe… saat itu masih mahasiswa jadi cuma melihat saja. Bagi saya Simpang Lima adalah bagaikan Manners Mall atau Cuba Street di Wellington New Zealand. Bedanya kalau di Semarang masak pakai cabe, kalau di New Zealand cuma pakai lada. Nggak pedes…, nggak Indonesia banget.

I love my country.