Kewaspadaan Atas Upaya Penipuan Untuk Bekerja di Selandia Baru

Artikel lengkapnya di www.andoyoanny.com.

KBRI Wellington akhir-akhir ini menerima banyak pertanyaan dan keluhan dari WNI yang berdiam di Indonesia dan yang sudah berada di Selandia Baru mengenai kesempatan kerja di Selandia Baru. KBRI menilai bahwa pertanyaan dan keluhan dimaksud disebabkan karena ada beberapa WNI telah merasa tertipu oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab di Indonesia dengan memberikan harapan untuk bekerja di Selandia Baru dengan berbagai macam cara, tetapi pada akhirnya tidak dapat memenuhi janji yang telah diberikan padahal masyarakat kemungkinan sudah membayarkan sejumlah uang tertentu. Upaya-upaya penipuan dimaksud dapat dikategorikan kepada dua jenis, yaitu menjanjikan pekerjaan di sektor perkebunan dan sektor lain, atau menjanjikan bahwa dengan mengikuti kursus-kursus pendidikan, seseorang dapat bekerja sambilan di Selandia Baru.

Silakan baca kelanjutan ceritanya di sini…

Advertisements

Two Degrees, Operator Telekomunikasi Seluler Baru di New Zealand

Asyiiiikkk, inilah operator baru yang akan meramaikan pasar telekomunikasi di New Zealand. Two Degrees, nama yang cukup aneh. Mungkin karena saking dinginnya New Zealand sehingga diberi nama ini. Operator ini dilaunching untuk mengisi celah yang selama ini didominasi oleh Vodafone (GSM) dan Telecom (CDMA).

Keberadaan Vodafone dan Telecom selama ini memang sudah dianggap sudah cukup mapan di New Zealand. Hanya monopoli dua operator inilah yang selama ini melayani komunikasi seluler di negeri Kiwi ini. Tarifnya pun jika dibandingkan dengan di Indonesia sangatlah mahal. Konsumen juga tak memiliki pilihan lain karena memang belum ada operator baru. Tapi sekarang, persaingan tampaknya akan semakin ketat.

Tarif panggilan Two Degrees saat ini berkisar 49 sen/menit (sekitar Rp. 3.200/menit), setengah dari tarif yang selama ini ditetapkan oleh Vodafone dan Telecom. Lalu layanan text atau pesan juga hanya 9 sen (sekitar Rp.500) sekali kirim, sekali lagi setengah dari harga operator lama. Cukup murah kan? Iya, cukup murah versi New Zealand. Kalau dibandingkan dengan Indonesia, yes, Indonesia is cheaper than New Zealand.

Jika saya amati, operator ini mengambil langkah yang tak jauh berbeda saat operator baru di Indonesia diluncurkan. Mirip saat Esia dan Fren (meskipun ini CDMA) saat pertama launching. Tarif panggilan dan pesan yang lebih murah dan tentunya berbagai macam promosi yang dilakukan dengan gencar. Beberapa baliho, gambar-gambar iklan dan radio-radio banyak menyiarkan tentang operator baru ini.

Perang tarif sepertinya akan mewarnai pasar telekomunikasi ini. Mau tak mau Vodafone dan Telecom sepertinya akan berusaha mengimbangi langkah operator baru ini. Untuk masalah kualitas layanan, saya belum tahu pasti karena belum banyak yang menggunakannya.

Ada beberapa sisi yang memang harus menjadi perhatian Two Degrees. Untuk masalah harga, baiklah mereka memberikan yang termurah. Tapi untuk masalah pelayanan, traffic dan coverage area, ini tantangan yang harus bisa diselesaikan oleh Two Degress.

Lalu, jika Anda berminat untuk berkunjung ke New Zealand, harus menggunakan operator lokal dan memutuhkan informasi tentang ini, silakan kontak saya.

Tower Telekomunikasi di Wellington New Zealand

Tower telekomunikasi merupakan perangkat penting untuk menunjang komunikasi di perkotaan, begitu di Wellington. Hanya saja ada perbedaan dalam penempatan dan desain tower di Selandia Baru dan di Indonesia. Aspek keamanan, estetika dan keindahan kota sepertinya menjadi kebijakan yang harus diterapkan dalam pembangunan tower telekomunikasi di sini.

Jika kita bandingkan, secara fisik tower-tower di sini menggunakan tower-tower berdesain light sampai ke midle, berbentuk monopole atau tubular dengan tinggi kurang dari 36 meter, bukan triangle atau empat kaki berketinggian lebih dari 42 meter yang banyak diterapkan di Indonesia. Untuk heavy tower hanya saya temukan di beberapa daerah pegunungan yang mengelilingi kota Wellington, salah satunya adalah yang di Mount Victoria, jauh dari pemukiman padat.

Sedangkan tower-tower di Indonesia meskipun berada di daerah berpemukiman padat tetap menggunakan desain triangle atau empat kaki yang berketinggian lebih dari 42 meter. Lalu bagaimana dengan desain tower rooftop? Juga ada perbedaan yang cukup signifikan, yaitu masalah di kamuflase dan ukuran antena yang kebanyakan berukuran lebih kecil dari yang dipasang di Indonesia.

Kadang saya pikir yang dipasang adalah tower radio, tapi ternyata juga disisipkan tower GSM dan CDMA berukuran mini. Pewarnaan dan pengecatan juga disamakan dengan warna asli bangunan existing. Lalu bagaimana di Indonesia?

Sepanjang pengalaman saya, desain tower-tower di Indonesia baik itu greenfield atau rooftop belum banyak perubahan dari tahun ke tahun. Desain yang kaku dan tidak mengikuti perkembangan kota, kurang memperhatikan aspek keserasian bangunan sekitar dengan gedung existing dan kadang ketinggian terlalu membahayakan bagi pemukiman. Hampir tidak ada jarak aman antara tower dengan pemukiman umum.

Tower-tower rooftop di Indonesia kebanyakan didesain untuk bisa dipanjat oleh manusia, hal inilah yang menjadi perbedaan utama sepertinya. Hal berbeda dengan desain tower rooftop di New Zealand, peralatan yang memadai membuat insinyur-insinyur di sini mendesain tower menjadi sulit untuk dipanjat manusia secara manual. Misalnya tower rooftop berbentuk monopole, di Indonesia pasti ada anak tangga yang memang disediakan bagi teknisi untuk memanjat dan mengikatkan diri. Ini jarang saya temui di New Zealand karena mereka naik dan turun tower menggunakan lift atau peralatan berat yang memungkinkan kita memasang perangkat tanpa memanjat tower.

Hal ini akhirnya menjadi wajar jika kemudian banyak protes dari masyarakat, ahli-ahli tata kota dan departemen tata kota sendiri. Perletakan tower dan posisi yang tidak tepat karena terlalu dekat dengan pemukiman akhirnya berdampak dengan protes dari warga sekitar, inilah yang akhirnya berkembang dan tren menjadi istilah Community Issue.

Ke depan, proses perencanaan dan akuisisi site seharusnya juga memperhatikan keamanan dan kenyamanan warga sekitar. Setidaknya radius tower saat terjadi kerobohan tidak menimpa rumah warga sekitar dan menimbulkan korban. Daerah yang seharusnya tetap menjadi daerah aman untuk pemukiman harus tetap di jaga, meskipun mungkin harus membutuhkan pembiayaan yang lebih besar karena menempatkan tower di area yang jauh dari pemukiman jelas akan lebih mahal.

Jalan dan Jalur Pedestrian di New Zealand

Wellington adalah ibu kota New Zealand. Kota yang berpenduduk kurang lebih 350.000 jiwa ini memang memiliki desain minimalis yang cukup memudahkan meskipun bagi Anda yang baru pertama kali datang di kota ini. Anda hampir tidak akan menemukan lorong atau jalanan kecil yang tidak diberi nama seperti lorong-lorong semisal di Kota Depok, Semarang atau Jakarta. Apalagi di kota Blora tempat kelahiran saya.

Ada yang membuat budaya jalan di sini sangat menyenangkan dan nyaman. Desain lampu traffic light dan zebra cross yang memang sangat mudah untuk digunakan para pedestrian atau pejalan kaki membuat Anda akan merasa nyaman. Dari hasil pengamatan yang saya lihat, lebar jalur pedestrian atau trotoar rata-rata adalah 2,50 – 3,00 meter. Cukup dari lebih untuk jalan berjajar 3-4 orang. Jika kita lihat, rata-rata jalur trotoar/pedestrian di Indonesia kebanyakan kurang dari 2,00 meter.

Untuk lampu traffic light saat pedestrian akan menyeberang juga cukup mendukung bagi para pedestrian. Selain di setting seperti halnya lampu traffic light di Indonesia, lampu traffic light di sini juga memiliki saklar khusus bagi para pedestrian. Saat para pejalan kaki ingin menyebrang, maka mereka tinggal menekan saklar tersebut lalu menunggu lampu menyala hijau yang juga khusus disediakan bagi para pedestrian. Silakan cek dan lihat pembahasan detailnya di sini.

Beberapa persimpangan dan perempatan jalan kebanyakan juga disediakan tempat berteduh bagi para pejalan kaki. Desainya cukup simple, mudah diterapkan, ringan dan yang cukup unik juga menghasilkan uang bagi pemerintah karena menyediakan space untuk billboard dan iklan.

Desain jalan untuk orang cacat dan orang tua

Inilah yang jarang dan kayaknya belum kita temukan di Indonesia. Desain trotoar dan tempat penyeberangan jalan (zebra cross dan area traffic light) dibuat cukup landai sehingga kendaraan dan kursi roda orang-orang cacat atau orang tua dengan leluasa bisa lewat. Beda tinggi antara jalan utama untuk lalu lintas kendaraan dan jalur pedestrian di tempat penyeberangan tidak lebih dari 3 centimeter, cukup nyaman dan mudah untuk jalur roda kursi roda, kereta bayi dan kendaraan orang cacat.

Kereta bayi juga merupakan pemandangan yang cukup wajar dan sering kita lihat di kota Wellington. Desain jalan, trotoar dan jalur pedestrian yang sangat ergonomis memudahkan Ibu/Bapak berjalan-jalan dengan bayi atau anak yang didorong di atas kereta bayi, kursi roda orang cacat dan orang tua.

Saya pribadi sangat berharap kelak desain trotoar dan jalanan di Indonesia didesain seperti ini. Memudahkan bagi orang tua, orang cacat dan orang yang sedang mengasuh anaknya untuk berjalan-jalan di kota. Mau diakui atau tidak, desain trotoar/pedestrian terhadap jalan utama di tempat penyeberangan di Indonesia memiliki beda tinggi yang sangat kontras, kebanyakan lebih dari 15 centimeter. Beda tinggi yang terlalu besar akhirnya tidak memungkinkan kursi roda, kereta bayi dan kendaraan orang cacat bisa terperosok. Kendaraan atau mobil pun akan sangat sulit melompati ini.

Kerja Part Time di Wellington? Buka Website ini yah

Assalamualaikum wr wb

Sudah lama nggak upload postingan, soalnya kemarin lagi ngubek-ubek mencoba daftar Google Adsense. Tapi dari 6 yang di apply, keenam-enamnya di tolak. Syukurlah… Enam kali belajar gagal. Alhamdulillah aplikasi yang ketujuh dan kedelapan diterima.

Pesan saya, jangan lupa mendownload link-link yang saya sediakan. Kalo teman2 mendownload melalui link-link yang saya sediakan di beberapa postingan saya bersyukur. Teman-teman mendownload, berarti saya dapat beberapa sen dollar. Hehe….

Kalo mau coba, klik aja download di sini. Itu isinya Peta Yogyakarta kok. Kan lumayan, kalo Anda download berarti bantu biaya kuliah saya.

Oh iya, dalam postingan kali ini saya ingin menyampaikan beberapa informasi tentang website-website yang menyediakan informasi tentang pekerjaan part time atau pekerjaan full time. Utamanya yang ada di New Zealand, dan Wellington pada khususnya. Di simak yah.

  1. TradeMe, untuk ini Anda bisa mendapatkan informasi pekerjaan part time dan full time di New Zealand. Kalik aja linknya di http://www.trademe.co.nz/category_index.htm#TradeMeJobs. Mudah kok, coba aja yah. Tinggal klik jenis jobnya, waktu kerjanya dan area kerjanya. Lumayan komplit deh, dari barang baru, barang bekas/second sampai tetek bengek yang aneh-aneh juga bisa Anda dapatkan dari TradeMe.
  2. Seek.co.nz, Anda bisa mengklik link ini http://www.seek.co.nz. Caranya nggak jauh beda dengan TradeMe.
  3. Job yang disediakan pemerintah New Zealand, ini sih jarang dibuka di sini. Tapi bisa menjadi alternatif. Klik aja di link ini yah http://www.careers.govt.nz/. Situs ini agak ribet sedikit, cuma kalo sudah biasa buka lama-lama juga enak kok.
  4. Student Job Search, disingkatnya SJS. Link ini memang dikhususkan untuk para student, buka aja di http://www.sjs.co.nz/. Anda tinggal masukkan kategori pekerjaan dan region/area yang Anda inginkan, lalu klik Search. Wuz…wuz…job akan keluar. Mudah-mudahan ada yang cocok dengan Anda.
  5. Ini namanya agak susah, tapi bisa Anda klik linknya di sini http://jobs.nzherald.co.nz/. Kalo yang ini saya baru buka beberapa kali, bisa dihitung dengan jari. Anda yang mencoba yah and then give me the info about that, okey?
  6. Nah, ini dari pemerintah lagi. Namanya http://www.jobs.govt.nz/. Coba yah. Hehe…

Makasih ya temen2…..

Prosedur Bekerja Sambil Belajar di New Zealand

Assalamualaikum, hai Pembaca. Salam rindu dari kami yang saat ini sedang jauh dari tanah air tercinta. Mohon maaf karena lama nggak muncul untuk nge-blog atau meng-upload. Mohon maaf juga kalau postingannya jadi junk-mail di email Anda.

Ada beberapa prosedural yang harus dipahami oleh beberapa teman yang mau berangkat ke New Zealand untuk studi, namun juga berharap bisa mendapatkan penghasilan sembari bekerja part time.

Berikut ini beberapa prosedurnya, semoga ada manfaatnya:

  1. Jika nilai TOEFL Anda di atas 500 atau IELTS di atas 5,0 maka mahasiswa/pelajar yang ingin berangkat ke New Zealand sangat dianjurkan (kalau saya mewajibkan, hehe…) untuk mengajukan Visa Student maka sekaligus mengajukan VOC (Visa Student yang sekaligus juga memberikan kesempatan siswa/student untuk bekerja part time 20 hours/week). Mengajukannya di saat masih di Indonesia aja, di Embassy New Zealand. Kalau sudah terlanjur kecemplung di New Zealand maka bisa mengajukan melalui sekolah/universitas tempat ia kuliah. Prosesnya sekitar 1 bulan, dengan kelengkapannya adalah: Visa, Pasport, Surat Pengantar dan Nilai TOEFL/IELTS asli. Biasanya sih bayar NZ$ 127. Detail tentang VOC bisa dibaca di sini http://www.migrationexpert.com/nz/Visa/Vocational-Trainee-Student-Visa-New-Zealand.asp. Tapi bahasa Inggris loh yah.
  2. Kalau nilai TOEFL dan IELTS di bawah standar di atas, maka sebaiknya test TOEFL/IELTS dulu di Indonesia agar bisa mencapai batas minimal, kalau yang kurang, yah jangan berharap dapat VOC. Itu bisa kita urus di NZ, tapi tetap harus ada skor TOEFL/IELTS sesuai standar minimal, jadi di NZ test IELTS aja. Biayanya sekitar NZ$ 290-an. Mahal kan?
  3. Kalau sudah punya VOC, kita urus dulu nomor IRD (lihat di http://www.ird.govt.nz). IRD itu semacam nomor pajak bagi orang yang sudah bekerja di New Zealand. Untuk memproses IRD, kita bisa mengurusnya di kantor pos NZ atau langsung ke kantor pajak. Sebaiknya bawa Letter of Offer (Surat yang menyatakan bahwa kita sudah diterima di lembaga pendidikan di NZ, kalau belum ada ya minta aja ke sekolah/kampus tempat kita belajar di NZ), SIM dan Pasport, kalau pake KTP AMA pasport aja biasanya nggak bisa. Pasport sama SIM (Driving Lisence biasanya sudah bisa, jadi nggak perlu bawa Letter of Offer. Jadi bersyukurlah yang sudah punya SIM (bisa SIM A, B, C). Prosesnya sekitar 10 hari kerja, tapi sebenarnya kita bisa dapat lebihh cepat asal rajin menelpon operator kantor pajaknya.
  4. Sudah dapat IRD, lalu bikin akun bank. Alias punya nomor rekening bank. Buka rekening bank di NZ gratis kok, nggak harus bayar seperti di Indonesia. Jadi lebih mudah. Satu sampai tiga jam paling sudah selesai, kecuali kita Oon-oon amat kagak bisa bahasa Inggris, hehehe….
  5. Lalu bikin CV, surat lamaran dan harus pake CV/Lamaran gaya NZ. Ringkes banget nggak kayak CV made in Indonesia, ntar saya upload deh contohnya yak.
  6. Lalu door to door nglamar pekerjaan deh. Yak kalauu mau canggih dikit pake internet, atau datang langsung ke tempat yang kita incer plus bawa CV-nya. Biasanya sekali dua kali kita belepotan ngomongnya karena masih asing dengan bahasa Inggris yang pas-pasan. Hehe….ini pengalaman pribadi.
  7. Tinggal menunggu deh, kalau diterima ya syukur kalau nggak ya syukur. Masak dari 20 CV dan lamaran yang kita sebar nggak ada yang nyangkut.

Yah itu dulu yah dari saya, soalnya istri sudah menunggu di belakang. Nggak tau mau ngajak apa. Makasih
Salam rindu selalu.

Obral Murah Olah Data SPSS dan Kursus SPSS



For Sale: OLAH DATA SPSS, SKRIPSI, THESIS, DESERTASI….
Category: Other/General
Price: Harga Mahasiswa…

Hai Pembaca…

Bagi Anda atau saudara, teman dan relasi Anda sedang membutuhkan pengolahan dan analisa data dengan SPSS kami siap membantu Anda.

Paket olah data dan konsultasi kami sediakan untuk mempermudah Anda dalam menyelesaikan tugas, pekerjaan dan kuliah Anda. Hasil pengolahan juga bisa selalu Anda download langsung kapan pun Anda mau secara real time dari blog kami di http://andoyoandoyo.multiply.com.

Bimbingan sampai tugas Anda selesai juga kami sediakan 24 jam penuh. Anda bisa menghubungi kami di:

Andoyo: 08640213107
Email : andoyoandoyo@gmail.com

Terimakasih….