Kheira Alexandrina Andoyo, Putri Pertama Kami

Kheira Alexandrina Andoyo adalah nama yang kami berikan untuk putri pertama kami.

Kami Andoyo dan istri tercinta Eflita Meiyetriani beserta keluarga mengucakan rasa syukur pada Allah dan terimakasih kepada yang telah membantu dalam kehidupan kami.

Alhamdulillah, telah lahir putri pertama kami pada hari Kamis kurang lebih pukul 22.30 WIB di RS Mitra Keluarga Depok.

Mohon doanya agar menjadi anak yang sholehah, bermanfaat di dunia dan akhirat.

Kheira Alexandrina Andoyo

Advertisements

Data Pribadi Andoyo dan Eflita Meiyetriani

DATA PRIBADI:

Nama lengkap: Andoyo, S. Pd
Tempat tanggal lahir: Blora, 22 Pebruari 1983
Status: Sudah menikah (6 April 2008)
Nama Istri: Eflita Meiyetriani, SKM
Anak: Insya Allah, sekarang lagi hamil
Alamat: 4/19 Drummond Street Mount Cook Wellington New Zealand

Pendidikan:
SD Negeri Sumberejo Kec. Japah – Blora
SLTPN 1 Japah Blora
SMKN 1 Blora
Universitas Negeri Semarang, Fakultas Teknik Jurusan Pendidikan Teknik Bangunan (2001-2006)

DATA ISTRI:
Nama: Eflita Meiyetriani, SKM
Tempat tanggal lahir: Padang, 24 Mei 1983
Pendidikan terakhir: Sarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia

Saat ini kami berdua sedang melanjutkan pendidikan di New Zealand, bagi teman-teman yang ingin berkomunikasi dengan saya silakan kontak saya di:

Email, Facebook dan Frienster:

  1. andoyo_andoyo@yahoo.com
  2. andoyo_andoyo@hotmail.com
  3. andoyoandoyo@gmail.com
  4. Facebook di http://www.facebook.com.
  5. Friendster di http://www.friendster.com.

Anda juga mengunjungi website kami di:

  1. http://andoyoanny.blogspot.com
  2. http://naked-traveling.blogspot.com
  3. http://download-cheap.blogspot.com
  4. http://selandiabaru.blogspot.com
  5. http://andoyoandoyo.multiply.com

Andoyo, Nama Cuma Satu Kata: Andoyo

Nama saya Andoyo.

Hehe…, mohon maaf pembaca. Kalau postingan kali ini agak nyleneh. Iya, kali ini memang tujuannya untuk memasarkan diri di bidang pembentukan nama. Katakanlah self marketing, tujuannya agar nama saya bisa diindek oleh search engine, Google.com misalnya. Tapi di sisi terdalamnya, adalah memahami filosofi kenapa Ibu tercinta saya memberikan nama itu.

Nama saya Andoyo, nama yang ringkas. Karena ibu saya cuma memberikan nama Andoyo, cukup Andoyo. Pernah pada saat berumur balita Ibu mengubah nama saya menjadi Winarno. Ini karena waktu itu saya suka sakit-sakitan dan suka pingsan. Sang Pencipta, Maha Tahu sehingga memberikan nikmatnya kepada Ibu saya untuk memberikan nama itu.

Nama Blog ini berasal dari kombinasi nama saya Andoyo dan Anny, panggilan saya kepada istri saya Eflita Meiyetriani. Silakan lihat Profil saya jika berkenan.

Nama Andoyo adalah nama yang mudah diingat karena simple, dan cuma terdiri dari satu kata. Andoyo berarti dorongan, motivasi, support dan sugesti. Nama yang diharapkan sosok penyandangnya menjadi seorang motivator, pendorong dan pemberi sugesti kebaikan. Ibu yang bijak, anakmua sayang padamu.

Andoyo adalah nama yang sangat berarti bagi saya. Nama yang kadang juga menjadi bahan pertanyaan orang-orang bule karena tanpa ada last name, cuma first name. Yaitu Andoyo.

Kadang-kadang saat saya mengisi beberapa formulir online yang harus mencantumkan nama first name dan family name, maka dua-duanya saya tulis satu nama yang sama sehingga kalau di baca jadi Andoyo Andoyo. Ada juga yang saya tambahkan Adi di tengahnya untuk menghubungkan nama asli saya dengan nama kecil saya, Andoyo Adi Winarno.

Istriku Sakit Flu Saat Hamil, Kasihan Dia

Sudah dua hari ini istri saya saat malam hari batuk-batuk dan bersin-bersin tidak seperti biasanya. Kasihan dia, tidurnya tidak bisa nyenyak. Hidungnya mampet, bicaranya sengau dan batuknya membuat bahunya terguncang-guncang.

Usia kehamilannya yang sekarang masuk minggu ke-9 mau tak mau membuatnya ketar-ketir. Ini kehamilan pertama kami. Tadi pagi saya lihat dia sibuk membaca beberapa artikel tentang influenza dan batuk pada saat hamil, saya pun khawatir. Saya pun memutuskan tidak berangkat ke kampus untuk mengawasi dan merawatnya. Hidungnya semakin merah karena sering bersin dan mengelap cairan yang keluar karena flu.

Istri saya tidak suka dingin. Cuaca kota Wellington yang tidak menentu selama hampir seminggu, hujan dan angin, suhu yang mencapai empat derajat celcius mau tak mau membuatnya merasa tak nyaman. Beberapa kali kami kehujanan pada saat berangkat dan pulang dari kampus. Nafsu makan yang kadang turun karena mual dan muntah pada saat hamil membuatnya sedikit lebih kurus. Untuk menghangatkan badannya kadang saya buatkan wedang jahe, meskipun tak senikmat buatan Ibu tapi mudah-mudahan bisa mengurangi rasa dinginnya.

Sebelum shalat Jum’at saya sempatkan mampir ke Pak N Save untuk membeli buah, anggur dan jeruk. Istriku menyukainya. Kehamilannya tentu membatasinya untuk mengkonsumsi berbagai obat-obatan. Buah, sayuran segar, dan daging/ayam yang bersertifikasi halal adalah pilihan yang terbaik untuk ia konsumsi.

Selamat Ulang Tahun Istriku Tercinta, Eflita Meiyetriani

Eflita Meiyetriani, nama yang dulu tidak aku perkirakan akan menjadi pendamping hidup saya. Ada banyak kejutan yang ia saya temukan darinya. Kecantikan yang mungkin tidak bisa ditemukan dengan hanya melihat sekilas, karena ia ada di dalam hatinya yang meliputi seluruh jasmani dan rohaninya.

Satu tahun lalu kami menikah, ada banyak peristiwa suka dan duka yang kami alami. Peristiwa menyenangkan yang membuat saya semakin sayang padanya dan peristiwa-periswtiwa sulit yang membuat kami harus hidup apa adanya, sedih dan sesekali berselisih paham semakin menguatkan cinta kasih kami.

Hari ini adalah hari ulang tahunnya yang ke-duapuluh enam tahun. Untuk istriku, suamimu minta maaf karena tidak bisa memberikan sesuatu sebagai hadiah. Suamimu sayang padamu, semakin sayang. Hadiah terbesar di hari ulang tahun suamimu dan ulang tahunmu adalah kehamilanmu, itu adalah karunia Allah yang sudah setahun lebih kita nantikan. Suamimu meminta maaf jika tidak bisa sebaik yang Engkau harapkan, banyak menyakitimu, tidak menuruti keinginanmu dan sesekali marah padamu.

Istri yang kusayangi, entah apa yang akan terjadi di masa mendatang kelak. Kita harus tegar menghadapi semua permasalahan bersama, semakin kuat, semakin menyayangi di masa sekarang dan sampai di hari akhir kita nanti. Suamimu ingin kita menjadi teladan kebaikan, keluarga yang sakinah, mawadah dan warrohmah.

Istriku, Selamat Ulang Tahun. Suamimu ingin menciumu dan bayi kita dengan mesra. Maukah Engkau hidup bersama dan saling menyayangi hingga akhir hayat kita nanti? Sang Pencipta tidak suka diduakan, sifat itu menurun pada hamba-Nya, padamu dan padaku.

SD Negeri Sumberejo Kecamatan Japah Kabupaten Blora

Sekolah Dasar Negeri Sumberejo Kecamatan Japah Kabupaten Blora Propinsi Jawa Tengah, ya ini adalah tempat pertama kali dimana saya sekolah. Sekolah dengan 5 kelas dan 1 ruang kantor sekaligus ruang guru ini terletak tak jauh dari pusat desa. Jalan kaki kira-kira ya sepuluh atau lima belas menit. Sekolah yang sebenarnya jauh dari peradaban perkotaan.

Sekolah dengan lapangannya yang luas, sehingga kami puas bermain. Alam yang masih asri dan jauh dari polusi. Tanpa lalu lalang kendaraan yang membahayakan kami. Sekolah yang menyenangkan.

Saya masih ingat dengan Pak Paryono almarhum, guru saya waktu kelas satu dan kelas dua. Beliau rela mengayuh sepedanya yang berjarak 6 kilometer demi untuk mengajar kami. Lalu Pak Siswanto, guru saya waktu kelas 3, dari beliaulah saya pertama kalinya diberi rangking 1 di kelas. Lalu Pak Masudji, guru kelas 4 yang galak dan juga memberi saya nilai terbaik di kelas.

Pak Djoko Suryono mungkin adalah guru saya waktu kelas 5, rumahnya yang tepat berada di depan rumah saya memaksa saya untuk belajar lebih giat. Ada banyak buku, koran dan majalah yang beliau sediakan di saat saya masih belia. Saya ucapkan terimakasih yang besar, di usia 11 tahun saya telah banyak membaca majalah dan koran yang banyak memberi saya gambaran tentang pendidikan tinggi, kuliah di luar negeri dan sebagainya. Saya masih ingat, saat itu saya suka sekali membaca majalah Intisari. Membaca tentang petualangan di alam liar Afrika dimana saat teman-teman sebaya saya tidak menyukainya, entah kapan saya mengunjunginya. Saya bersyukur karena sekarang saya berkesempatan berpetualang dari pulau ke pulau di Indonesia dan ke Selandia Baru. Terima kasih atas ilmunya yang beliau sampaikan, melalui buku dan majalah yang disediakan untuk saya baca.

Lalu Pak Kukuh, guru kelas enam. Saya ucapkan terimakasih atas pengajaran yang diberikan. Pak Soekemi (almarhum), Kepala Sekolah kami yang begitu tegas dan disiplin mengajar anak-anaknya. Beliau adalah guru produk jaman Belanda yang dengan tegas menerapkan disiplin, memotong kuku, duduk tenang saat belajar dan mengajar matematika sehingga mudah saya pahami. Pak Mustaqim, guru agama yang mengajarkan Fiqih, Hadist, dan Aqidah. Dari beliaulah saya mengenal membaca dan menulis Al Qur’an. Terima kasih kepada beliau semuanya.

Sekolah yang dulu di saat saya belajar masih belum ada Taman Kanak-Kanak-nya sekarang alhamdulillah sudah berdampingan. Mudah-mudahan bisa menjadi sekolah yang lebih baik dibanding masa saya sekolah dulu.

Desa Sumberejo, Kec. Japah Kab. Blora, Aku merindukanmu

Saya ucapkan terimakasih kepada guru-guru Sekolah Dasar kami, Pak Soekemi (almarhum) yang selalu mencambuk kami dengan sepotong lidi saat tak serius belajar, Pak Paryono (almarhum) yang berjarak 7 kilometeran dan berangkat ke sekolah dengan bersepeda, Pak Kukuh, Pak Joko, Pak Masudji, Pak Mustaqim guru agama kami, Pak Siswanto yang mengajar saya saat kelas tiga dan guru-guru muda lainnya. Saya ucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya pada mereka.

Desa Sumberejo kecamatan Japah kabupaten Blora, rumah kami ada di sana. Setelah dua bulan berada di New Zealand saya sangat merindukannya. Sebuah desa kecil yang nyaman, jauh dari hiruk pikuk perkotaan, hutan jati yang masih menghijau, desa yang tenang. Berjarak 25 kilometer dari kota Blora, rumah saya adalah di sebuah desa yang terpencil.

Rumah berlantai tanah dan berdinding kayu, tapi kami merasa nyaman tinggal di dalamnya. Entah kapan kami bisa memperbaikinya. Hanya kamar mandi dan WC yang menjelang pernikahan saya saya buat dengan gaya yang lebih modern.

Saya bersyukur karena Allah memberikan sarana dan media bagi saya untuk menjadi spirit baru bagi kemajuan desa kami, bagi anak-anak muda yang dulu takut untuk berkuliah karena keterbatasan biaya. Kini, kami generasi muda desa kecil ini tak terlalu takut dengan hal itu. Kini, di desa kami telah muncul bibit-bibit baru Sarjana yang berawal dari ketidakmampuan dan kenekatan yang tidak malu saat harus menenteng beras untuk dibawa ke kampus saat pulang ke Sumberejo. Saya berharap mereka bisa memberikan konstribusi yang terbaik, minimal bagi diri sendiri dan orang tuanya.