Kheira Alexandrina Andoyo, Putri Pertama Kami

Kheira Alexandrina Andoyo adalah nama yang kami berikan untuk putri pertama kami.

Kami Andoyo dan istri tercinta Eflita Meiyetriani beserta keluarga mengucakan rasa syukur pada Allah dan terimakasih kepada yang telah membantu dalam kehidupan kami.

Alhamdulillah, telah lahir putri pertama kami pada hari Kamis kurang lebih pukul 22.30 WIB di RS Mitra Keluarga Depok.

Mohon doanya agar menjadi anak yang sholehah, bermanfaat di dunia dan akhirat.

Kheira Alexandrina Andoyo

Advertisements

Andoyo, Nama Cuma Satu Kata: Andoyo

Nama saya Andoyo.

Hehe…, mohon maaf pembaca. Kalau postingan kali ini agak nyleneh. Iya, kali ini memang tujuannya untuk memasarkan diri di bidang pembentukan nama. Katakanlah self marketing, tujuannya agar nama saya bisa diindek oleh search engine, Google.com misalnya. Tapi di sisi terdalamnya, adalah memahami filosofi kenapa Ibu tercinta saya memberikan nama itu.

Nama saya Andoyo, nama yang ringkas. Karena ibu saya cuma memberikan nama Andoyo, cukup Andoyo. Pernah pada saat berumur balita Ibu mengubah nama saya menjadi Winarno. Ini karena waktu itu saya suka sakit-sakitan dan suka pingsan. Sang Pencipta, Maha Tahu sehingga memberikan nikmatnya kepada Ibu saya untuk memberikan nama itu.

Nama Blog ini berasal dari kombinasi nama saya Andoyo dan Anny, panggilan saya kepada istri saya Eflita Meiyetriani. Silakan lihat Profil saya jika berkenan.

Nama Andoyo adalah nama yang mudah diingat karena simple, dan cuma terdiri dari satu kata. Andoyo berarti dorongan, motivasi, support dan sugesti. Nama yang diharapkan sosok penyandangnya menjadi seorang motivator, pendorong dan pemberi sugesti kebaikan. Ibu yang bijak, anakmua sayang padamu.

Andoyo adalah nama yang sangat berarti bagi saya. Nama yang kadang juga menjadi bahan pertanyaan orang-orang bule karena tanpa ada last name, cuma first name. Yaitu Andoyo.

Kadang-kadang saat saya mengisi beberapa formulir online yang harus mencantumkan nama first name dan family name, maka dua-duanya saya tulis satu nama yang sama sehingga kalau di baca jadi Andoyo Andoyo. Ada juga yang saya tambahkan Adi di tengahnya untuk menghubungkan nama asli saya dengan nama kecil saya, Andoyo Adi Winarno.

Istriku Sakit Flu Saat Hamil, Kasihan Dia

Sudah dua hari ini istri saya saat malam hari batuk-batuk dan bersin-bersin tidak seperti biasanya. Kasihan dia, tidurnya tidak bisa nyenyak. Hidungnya mampet, bicaranya sengau dan batuknya membuat bahunya terguncang-guncang.

Usia kehamilannya yang sekarang masuk minggu ke-9 mau tak mau membuatnya ketar-ketir. Ini kehamilan pertama kami. Tadi pagi saya lihat dia sibuk membaca beberapa artikel tentang influenza dan batuk pada saat hamil, saya pun khawatir. Saya pun memutuskan tidak berangkat ke kampus untuk mengawasi dan merawatnya. Hidungnya semakin merah karena sering bersin dan mengelap cairan yang keluar karena flu.

Istri saya tidak suka dingin. Cuaca kota Wellington yang tidak menentu selama hampir seminggu, hujan dan angin, suhu yang mencapai empat derajat celcius mau tak mau membuatnya merasa tak nyaman. Beberapa kali kami kehujanan pada saat berangkat dan pulang dari kampus. Nafsu makan yang kadang turun karena mual dan muntah pada saat hamil membuatnya sedikit lebih kurus. Untuk menghangatkan badannya kadang saya buatkan wedang jahe, meskipun tak senikmat buatan Ibu tapi mudah-mudahan bisa mengurangi rasa dinginnya.

Sebelum shalat Jum’at saya sempatkan mampir ke Pak N Save untuk membeli buah, anggur dan jeruk. Istriku menyukainya. Kehamilannya tentu membatasinya untuk mengkonsumsi berbagai obat-obatan. Buah, sayuran segar, dan daging/ayam yang bersertifikasi halal adalah pilihan yang terbaik untuk ia konsumsi.

Selamat Ulang Tahun Istriku Tercinta, Eflita Meiyetriani

Eflita Meiyetriani, nama yang dulu tidak aku perkirakan akan menjadi pendamping hidup saya. Ada banyak kejutan yang ia saya temukan darinya. Kecantikan yang mungkin tidak bisa ditemukan dengan hanya melihat sekilas, karena ia ada di dalam hatinya yang meliputi seluruh jasmani dan rohaninya.

Satu tahun lalu kami menikah, ada banyak peristiwa suka dan duka yang kami alami. Peristiwa menyenangkan yang membuat saya semakin sayang padanya dan peristiwa-periswtiwa sulit yang membuat kami harus hidup apa adanya, sedih dan sesekali berselisih paham semakin menguatkan cinta kasih kami.

Hari ini adalah hari ulang tahunnya yang ke-duapuluh enam tahun. Untuk istriku, suamimu minta maaf karena tidak bisa memberikan sesuatu sebagai hadiah. Suamimu sayang padamu, semakin sayang. Hadiah terbesar di hari ulang tahun suamimu dan ulang tahunmu adalah kehamilanmu, itu adalah karunia Allah yang sudah setahun lebih kita nantikan. Suamimu meminta maaf jika tidak bisa sebaik yang Engkau harapkan, banyak menyakitimu, tidak menuruti keinginanmu dan sesekali marah padamu.

Istri yang kusayangi, entah apa yang akan terjadi di masa mendatang kelak. Kita harus tegar menghadapi semua permasalahan bersama, semakin kuat, semakin menyayangi di masa sekarang dan sampai di hari akhir kita nanti. Suamimu ingin kita menjadi teladan kebaikan, keluarga yang sakinah, mawadah dan warrohmah.

Istriku, Selamat Ulang Tahun. Suamimu ingin menciumu dan bayi kita dengan mesra. Maukah Engkau hidup bersama dan saling menyayangi hingga akhir hayat kita nanti? Sang Pencipta tidak suka diduakan, sifat itu menurun pada hamba-Nya, padamu dan padaku.

Hamil di New Zealand, Gimana Nih? Pelayanan Kesehatan Kehamilan di New Zealand Gimana?

Alhamdulillah, setelah setahun menunggu akhirnya Allah memberikan kepercayaan kepada kami untuk mengasuh anak. Istri saya saat ini sedang hamil muda. Dia lagi manja-manjanya dan muntah hampir setiap malam. Kota Wellington yang dingin kadang memperparah kondisi itu.

Lalu bagaimanakah pelayanan kesehatan untuk kehamilan dan secara umum di New Zealand? Menurut saya adalah very-very worst, sangat buruk dan lambat. Lalu kenapa mereka masuk dalam jajaran negara yang sehat? Menurut saya karena pelayanan kesehatan yang buruk inilah yang membuat orang malas berkunjung ke dokter atau klinik sehingga laporan orang sakit tidak setinggi di Indonesia. Akhirnya data orang sakit yang masuk ke Depkes-nya New Zealand jumlahnya sedikit.

Seburuk apapun di Indonesia kita dengan mudah bisa mendapatkan akses pelayanan kesehatan misalnya di Puskesmas, dokter umum atau klinik-klinik yang terdekat dengan tempat bermukim kita. Tanpa memandang apakah Anda warga asli atau pendatang, harga juga tak terlalu beda jauh.

Lalu bagaimana dengan di New Zealand? Berikut ini saya jelaskan berurutan:

  1. Pertama Anda datang ke GP (General Practisioner), atau katakanlah Puskesmas kalau di Indonesia Anda harus registrasi dulu dan menunggu selama dua minggu untuk proses pendaftaran, padahal saat kita mendaftar itu benar-benar sedang sakit.
  2. Setelah dua minggu approved by GP, baru mereka membuat appointment untuk bertemu dengan dokter, bisa jadi kalau Anda beruntung Anda bisa langsung ketemu dokter hari itu, tapi kalau tidak siap-siaplah ketemu dokter 5 hari sesudahnya. Inilah yang istri saya alami saat mau memeriksakan kehamilan.
  3. Habis ketemu dokter, baru mereka memberikan nomor telepon/kontak untuk Bidan/Midwife yang bisa kita hubungi untuk menangani kehamilan. Lagi-lagi harus appointment dulu dengan mereka melalui telepon atau datang langsung ke kliniknya.
  4. Pemeriksaan dokter kebanyakan tidak sedetail dokter-dokter di Indonesia, jarang diberi obat, seringnya vitamin saja. Pada beberapa kasus sakit apapun diberi obat yang sama, yaitu Panadol.
  5. Pemeriksaan kehamilan di sini sangat njelimet dan rumit, selain itu jika Anda bukan warga asli sini atau pendatang dengan Student Visa kurang dari dua tahun jangan harap dapat biaya murah.

Jadi, secara umum saya menganggap pelayanan kesehatan di New Zealand tak sebaik di negara kita Indonesia. Akses secara langsung bisa Anda dapatkan tanpa melalui prosedural yang njelimet dan berbelit-belit, biaya pun hampir sama biarpun Anda warga pendatang atau bukan.