Ayoo, Klaim Lagi Ya…

Tari pendet diklaim, Reog diklaim, Sipadan dan Ligitan diembat, Ambalat diklaim, Batik diklaim, Lagu Rasa Sayange diklaim, duh duhhh. Apa itu negara ga punya budaya sendiri ya??

Syukur-syukur korupsi juga diklaim….

Ayoo, Klaim Lagi Ya…

Tari pendet diklaim, Reog diklaim, Sipadan dan Ligitan diembat, Ambalat diklaim, Batik diklaim, Lagu Rasa Sayange diklaim, duh duhhh. Apa itu negara ga punya budaya sendiri ya??

Syukur-syukur korupsi juga diklaim….

Father’s advice.jpg

Link

Murahnya Potong Rambut di Luar Negeri

Gondrong…, sesuatu yang dulu saya benci tapi sekarang harus saya sukai. Rambut yang selama di Indonesia setiap 3 minggu atau sebulan sekali dipotong sekarang harus rela memotongnya 4 atau 6 bulan sekali. Rambut saya yang memang aslinya njigrak seperti rambut landak semakin tambah njigrak karena tidak cukuran selama beberapa bulan.

Urusan cukur mencukur dan potong memotong rambut, Indonesia sepertinya adalah salah satu negara termurah. Cukup Rp.6.000 atau Rp.7.000 rambut kita sudah bisa dilibas oleh tukang cukur profesional plus pijat di kepala 5 menitan.

Saya sempat baca blognya Pak Dono Widiatmoko yang saat ini bermukim di The United Kingdom, beliau bilang kalau sekali pangkas rambut di sana tarifnya 11 poundsterling untuk umum dan 8,5 poundsterling untuk pelajar. Kalau dirupiahkan ya sekitar Rp.150.000-an, cukup untuk 20 kali potong rambut di Indonesia. Kalau di New Zealand, tarif rata-rata termurah adalah $20 untuk umum dan $15 untuk student (harus menunjukkan student card tentunya). Jika dirupiahkan ya kurang lebih Rp.130.000-an. Kalau di Barber Shop yang lebih bagus harganya bisa 2 kali lipat lebih. Tak beda jauh dengan di UK.

Tarif potong rambut untuk wanita justru lebih mahal lagi. Rata-rata adalah dua kali dari harga di Barber Shop untuk pria. Akhirnya dengan tidak yakin, istri saya pun memasrahkan rambutnya untuk saya potong. Hasilnya? Cukup memuaskan untuk tukang pangkas rambut wanita pemula. Gratis tis tis…, hayo siapa yang mau?

Selama di New Zealand saya baru pergi ke tukang cukur sekali, itu pun dengan hasil yang menurut saya kurang memuaskan. Rambut saya yang njigrak jadi tambah njigrak. Rambut yang biasa dicukur seperti tentara akhirnya jadi kayak model rambutnya si Kipli di sinetron Kiamat Sudah Dekat. Istri saya pun bilang, “Hasil cukurannya bagus mas, bagus banget.” Tapi sambil tertawa terpingkal-pingkal.

Nah, jika mau murah. Coba cari teman-teman yang bisa mencukur rambut kita. Sediakan saja alat-alatnya dan teman kita yang mencukur. Atau cukur botak alias gundul, cukup cukur sendiri dengan gunting elektrik yang banyak tersedia di toko-toko sekitar flat Anda.

Murahnya Potong Rambut di Luar Negeri

Gondrong…, sesuatu yang dulu saya benci tapi sekarang harus saya sukai. Rambut yang selama di Indonesia setiap 3 minggu atau sebulan sekali dipotong sekarang harus rela memotongnya 4 atau 6 bulan sekali. Rambut saya yang memang aslinya njigrak seperti rambut landak semakin tambah njigrak karena tidak cukuran selama beberapa bulan.

Urusan cukur mencukur dan potong memotong rambut, Indonesia sepertinya adalah salah satu negara termurah. Cukup Rp.6.000 atau Rp.7.000 rambut kita sudah bisa dilibas oleh tukang cukur profesional plus pijat di kepala 5 menitan.

Saya sempat baca blognya Pak Dono Widiatmoko yang saat ini bermukim di The United Kingdom, beliau bilang kalau sekali pangkas rambut di sana tarifnya 11 poundsterling untuk umum dan 8,5 poundsterling untuk pelajar. Kalau dirupiahkan ya sekitar Rp.150.000-an, cukup untuk 20 kali potong rambut di Indonesia. Kalau di New Zealand, tarif rata-rata termurah adalah $20 untuk umum dan $15 untuk student (harus menunjukkan student card tentunya). Jika dirupiahkan ya kurang lebih Rp.130.000-an. Kalau di Barber Shop yang lebih bagus harganya bisa 2 kali lipat lebih. Tak beda jauh dengan di UK.

Tarif potong rambut untuk wanita justru lebih mahal lagi. Rata-rata adalah dua kali dari harga di Barber Shop untuk pria. Akhirnya dengan tidak yakin, istri saya pun memasrahkan rambutnya untuk saya potong. Hasilnya? Cukup memuaskan untuk tukang pangkas rambut wanita pemula. Gratis tis tis…, hayo siapa yang mau?

Selama di New Zealand saya baru pergi ke tukang cukur sekali, itu pun dengan hasil yang menurut saya kurang memuaskan. Rambut saya yang njigrak jadi tambah njigrak. Rambut yang biasa dicukur seperti tentara akhirnya jadi kayak model rambutnya si Kipli di sinetron Kiamat Sudah Dekat. Istri saya pun bilang, “Hasil cukurannya bagus mas, bagus banget.” Tapi sambil tertawa terpingkal-pingkal.

Nah, jika mau murah. Coba cari teman-teman yang bisa mencukur rambut kita. Sediakan saja alat-alatnya dan teman kita yang mencukur. Atau cukur botak alias gundul, cukup cukur sendiri dengan gunting elektrik yang banyak tersedia di toko-toko sekitar flat Anda.

Berkunjung ke Botanic Garden Kedua Kalinya, Saat belum hamil dan sedang hamil, saat summer dan winter

Berkunjung ke Botanic Garden Kedua Kalinya, Saat belum hamil dan sedang hamil, saat summer dan winter

Shared via AddThis

Two Degrees, Operator Telekomunikasi Seluler Baru di New Zealand

Asyiiiikkk, inilah operator baru yang akan meramaikan pasar telekomunikasi di New Zealand. Two Degrees, nama yang cukup aneh. Mungkin karena saking dinginnya New Zealand sehingga diberi nama ini. Operator ini dilaunching untuk mengisi celah yang selama ini didominasi oleh Vodafone (GSM) dan Telecom (CDMA).

Keberadaan Vodafone dan Telecom selama ini memang sudah dianggap sudah cukup mapan di New Zealand. Hanya monopoli dua operator inilah yang selama ini melayani komunikasi seluler di negeri Kiwi ini. Tarifnya pun jika dibandingkan dengan di Indonesia sangatlah mahal. Konsumen juga tak memiliki pilihan lain karena memang belum ada operator baru. Tapi sekarang, persaingan tampaknya akan semakin ketat.

Tarif panggilan Two Degrees saat ini berkisar 49 sen/menit (sekitar Rp. 3.200/menit), setengah dari tarif yang selama ini ditetapkan oleh Vodafone dan Telecom. Lalu layanan text atau pesan juga hanya 9 sen (sekitar Rp.500) sekali kirim, sekali lagi setengah dari harga operator lama. Cukup murah kan? Iya, cukup murah versi New Zealand. Kalau dibandingkan dengan Indonesia, yes, Indonesia is cheaper than New Zealand.

Jika saya amati, operator ini mengambil langkah yang tak jauh berbeda saat operator baru di Indonesia diluncurkan. Mirip saat Esia dan Fren (meskipun ini CDMA) saat pertama launching. Tarif panggilan dan pesan yang lebih murah dan tentunya berbagai macam promosi yang dilakukan dengan gencar. Beberapa baliho, gambar-gambar iklan dan radio-radio banyak menyiarkan tentang operator baru ini.

Perang tarif sepertinya akan mewarnai pasar telekomunikasi ini. Mau tak mau Vodafone dan Telecom sepertinya akan berusaha mengimbangi langkah operator baru ini. Untuk masalah kualitas layanan, saya belum tahu pasti karena belum banyak yang menggunakannya.

Ada beberapa sisi yang memang harus menjadi perhatian Two Degrees. Untuk masalah harga, baiklah mereka memberikan yang termurah. Tapi untuk masalah pelayanan, traffic dan coverage area, ini tantangan yang harus bisa diselesaikan oleh Two Degress.

Lalu, jika Anda berminat untuk berkunjung ke New Zealand, harus menggunakan operator lokal dan memutuhkan informasi tentang ini, silakan kontak saya.