Jalan dan Jalur Pedestrian di New Zealand

Wellington adalah ibu kota New Zealand. Kota yang berpenduduk kurang lebih 350.000 jiwa ini memang memiliki desain minimalis yang cukup memudahkan meskipun bagi Anda yang baru pertama kali datang di kota ini. Anda hampir tidak akan menemukan lorong atau jalanan kecil yang tidak diberi nama seperti lorong-lorong semisal di Kota Depok, Semarang atau Jakarta. Apalagi di kota Blora tempat kelahiran saya.

Ada yang membuat budaya jalan di sini sangat menyenangkan dan nyaman. Desain lampu traffic light dan zebra cross yang memang sangat mudah untuk digunakan para pedestrian atau pejalan kaki membuat Anda akan merasa nyaman. Dari hasil pengamatan yang saya lihat, lebar jalur pedestrian atau trotoar rata-rata adalah 2,50 – 3,00 meter. Cukup dari lebih untuk jalan berjajar 3-4 orang. Jika kita lihat, rata-rata jalur trotoar/pedestrian di Indonesia kebanyakan kurang dari 2,00 meter.

Untuk lampu traffic light saat pedestrian akan menyeberang juga cukup mendukung bagi para pedestrian. Selain di setting seperti halnya lampu traffic light di Indonesia, lampu traffic light di sini juga memiliki saklar khusus bagi para pedestrian. Saat para pejalan kaki ingin menyebrang, maka mereka tinggal menekan saklar tersebut lalu menunggu lampu menyala hijau yang juga khusus disediakan bagi para pedestrian. Silakan cek dan lihat pembahasan detailnya di sini.

Beberapa persimpangan dan perempatan jalan kebanyakan juga disediakan tempat berteduh bagi para pejalan kaki. Desainya cukup simple, mudah diterapkan, ringan dan yang cukup unik juga menghasilkan uang bagi pemerintah karena menyediakan space untuk billboard dan iklan.

Desain jalan untuk orang cacat dan orang tua

Inilah yang jarang dan kayaknya belum kita temukan di Indonesia. Desain trotoar dan tempat penyeberangan jalan (zebra cross dan area traffic light) dibuat cukup landai sehingga kendaraan dan kursi roda orang-orang cacat atau orang tua dengan leluasa bisa lewat. Beda tinggi antara jalan utama untuk lalu lintas kendaraan dan jalur pedestrian di tempat penyeberangan tidak lebih dari 3 centimeter, cukup nyaman dan mudah untuk jalur roda kursi roda, kereta bayi dan kendaraan orang cacat.

Kereta bayi juga merupakan pemandangan yang cukup wajar dan sering kita lihat di kota Wellington. Desain jalan, trotoar dan jalur pedestrian yang sangat ergonomis memudahkan Ibu/Bapak berjalan-jalan dengan bayi atau anak yang didorong di atas kereta bayi, kursi roda orang cacat dan orang tua.

Saya pribadi sangat berharap kelak desain trotoar dan jalanan di Indonesia didesain seperti ini. Memudahkan bagi orang tua, orang cacat dan orang yang sedang mengasuh anaknya untuk berjalan-jalan di kota. Mau diakui atau tidak, desain trotoar/pedestrian terhadap jalan utama di tempat penyeberangan di Indonesia memiliki beda tinggi yang sangat kontras, kebanyakan lebih dari 15 centimeter. Beda tinggi yang terlalu besar akhirnya tidak memungkinkan kursi roda, kereta bayi dan kendaraan orang cacat bisa terperosok. Kendaraan atau mobil pun akan sangat sulit melompati ini.

About andoyoanny
Blognya Andoyo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: